Ruko Permai Pogung Lor No. 2,3,4
Ring Road Utara, Yogyakarta
Telp (0274)625168
Email: info@dmiprimagama.com
BERITA
Kamis, 29 Oktober 2009, 16:21 WIB LIMA PRINSIP FINGERPRINT TEST DMI PRIMAGAMA INDONESIA
Oleh : Drs. H. Teguh Sunaryo
Direktur DMI PRIMAGAMA INDONESIA
Sebelum
mendalami tentang seluk beluk Tes Bakat melalui media Sidik Jari yang biasa
disebut sebagai Fingerprint Test (FPT), ada beberapa hal yang menjadi prinsip
yang perlu kita ketahui.
Pertama, Growing no Changes. Dalam diskusi
keberbakatan sering disebutkan bahwa bakat adalah karunia Tuhan yang dibawa
sejak seseorang itu dilahirkan yang menggambarkan atas kemampuan atau
ketidakmampuan seseorang pada bidang tertentu. Karena bakat adalah karunia
tuhan maka ia jangan diubah tetapi disyukuri. Bentuk bersukurnya adalah melalui
suatu ikhtiar untuk diyakini kemudian ditumbuhkembangkan secara baik dan benar.
Baik, karena harus selalu menjaga dan meningkatkan kualitas. Benar, karena
harus selalu berdasarkan urutan proses kronologis atau standar operating
prosedur tertentu (dalam suatu proses tidak semua hal bisa di komutatifkan). Mengubah
berarti menggambarkan rasa tidak bersyukurnya. Kalau tumbuh dan berkembang
pastilah berubah, sementara bila berubah belum tentu tumbuh dan berkembang. Mengubah
bisa menuju ke hal yang lebih baik dan bisa juga menuju ke hal yang lebih
buruk, walau kebanyakan kita berharap perubahan selalu ke arah yang lebih baik.
Kedua, Convergen no Divergen. Bila
bakat sudah dikenali maka sebaiknya dikembangkan secara khusus, tidak perlu
lagi mencoba-coba banyak hal diluar keberbakatannya. Hukum kekekalan energi
mengatakan bahwa energi itu satu tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan,
hanya berubah bentuk. Kalau energi yang satu itu diubah ke hal-hal yang khusus
dan fokus maka ia akan mudah tumbah dan berkembang. Kalau dikembangkan kebanyak
hal maka ia akan terpecah-pecah. Sebaliknya bagi seseorang yang belum kenal dan
belum yakin atas apa-apa yang menjadi bakat alaminya, maka biasanya ia akan
menempuh jalan trial and error, learning by doing. Semua bidang akan
diujicobakan, semua hal akan dilalaui. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah,
walau jelas-jelas akan lama, tidak efektif dan tidak efisien, bahkan cenderung
boros dan selalu dikejar oleh sang waktu (usia).
Ketiga, Strenght Approach no Defisit Approach. Kalau bakat sudah
dikenali selain tidak perlu trial and error, maka kita tinggal mengembangkan
bakat yang menonjol saja. Mengembangkan bakat lebih mudah dari pada mengubah
bakat. Mengembangkan bakat menonjol lebih mudah dari pada mengembangkan bakat
lemah. Jangan mengubah anak harimau menjadi anak naga, demikian kata pepatah.
Itu
berarti bahwa setiap orang selalu diberi karunia berupa kekuatan sekaligus juga
kelemahannya. Kembangkanlah apa-apa yang menjadi kekuatan kita. Bukankah sukses
adalah menjadi yang terbaik pada bidangnya. Tidak ada orang yang sukses pada
semua bidang kehidupan.
Keempat, Optimis
no Pesimis. Kenal atau tidak kenal bakat orang yang ingin sukses haruslah
senantiasa optimis. Banyak orang tidak kenal bakat alaminya saja hidupnya
selalu optimis apalagi bagi orang yang sudah mengenal bakat unggulnya maka ia
harus lebih optimis lagi. Orang yang optimis selalu semangat dan yakin. Orang
yang optimis selalu bisa melihat kesempatan di dalam kesempitan sekalipun.
Sebaliknya orang yang pesimis selalu melihat kesulitan walau dalam kesempatan
sekalipun. Orang yang pesimis terlalu sering berkeluh kesah. Bahwa tidak semua
orang yang optimis itu bakal sukses, tetapi terlalu banyak bukti bahwa orang
yang pesimis adalah gagal.
Kelima,
Proportional no Balance. Hidup adalah proses, didalam proses semuanya
dituntut untuk selalu proporsional. Memberlakukan anak usia dini tentu akan
berbeda dengan memberlakukan orang dewasa. Dalam proses bila semuanya telah
dilakukan secara proporsional maka akan terjadilah suatu keseimbangan.
Keseimbangan adalah sebuah konsekuensi atas proses yang berjalan secara
proporsional. Proporsional adalah proses sedangkan keseimbangan adalah suatu
konsekuensi. Apabila seseorang setelah mengikuti tes bakat didapati bahwa
potensi otak kirinya lebih dominan dari pada otak kananya, maka ia tidak harus
kecewa. Kembangkan saja potensi otak kirinya secara maksimal maka otak kanannya
segera akan mengikuti. Sebaliknya bagi seseorang yang otak kanannya lebih
dominan dari pada otak kiri, maka tugasnya adalah mengembangkan otakan kanannya
dan otak kirinya segera akan mengikutinya. Kinerja otak kanan dan otak kiri
tidaklah bersifat ON-OFF. Artinya tidak lah otak kanan diam saja saat otak kiri
sedang bekerja, dan tidak lah otak kiri akan diam saja walau otaka kanannya
sedang bekerja. Keduanya saling mendukung. Menggapai sukses tidak harus
menunggu kondisi otak kanan dan otak kiri seimbang terlebih dahulu. Pilihlah
jenis-jenis pekerjaan atau jenis-jenis kegiatan yang sesuai dengan kemampuan
dominan otak kita masing-masing.