Ruko Permai Pogung Lor No. 2,3,4
Ring Road Utara, Yogyakarta
Telp (0274)625168
Email: info@dmiprimagama.com
BERITA
Jum'at, 19 Desember 2008, 10:37 WIB DMI, Membantu menangani Kesulitan Belajar
Untitled Document
Nurmey Nurulchaq, Psikolog*
Pada tahun 1994, dari 3215 murid kelas satu hingga kelas enam SD di DKI Jakarta
menunjukkan bahwa terdapat 16,52% yang oleh guru dinyatakan sebagai murid berKesulitan
Belajar (Abdurrahman dan ibrahim, 1994). Sebagai seorang psikolog, keluhan orang
tua atau pengajar terhadap anak-anak yang mengalami kesulitan belajar menjadi
catatan yang cukup banyak dalam arsip yang saya miliki. Labelling negative yang
tak jarang muncul terhadap anak-anak berkesulitan belajar ini seringkali membuat
miris karena ketidaktahuan orang tua atau pengajar terhadap apa yang harus dilakukan.
Kesulitan Belajar atau yang juga dikenal dengan Kesulitan Belajar merupakan hambatan/gangguan
belajar pada anak dan remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yang cukup
signifikan antara taraf inteligensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai.
Dengan menggunakan bahasa sederhana dapat dikatakan bahwa anak-anak atau remaja
yang memiliki kemampuan atau kapasias intelektual yang memadai tetapi hasil yang
ditampakkan kurang setara dengan kemampuan yang dimilikinya atau bahkan cenderung
mengecewakan. Gangguan ini bersifat intrinsic dan mungkin berhubungan dengan
gangguan syaraf. Gangguan ini juga dapat diperparah oleh handicap pada indera
dan pengaruh lingkungan. Apabila tidak segera diatasi, gangguan ini dapat menimbulkan
gangguan perkembangan lain seperti gangguan perkembangan bicara, membaca, menulis,
pemahaman, dan berhitung.
Gejala-gejala umum yang tampak pada anak-anak atau remaja yang mengalami
Kesulitan Belajar ini, antara lain :
Kinerja Akademik menurun. Adanya hambatan-hambatan yang muncul dalam menggapai
hasil belajar yang lebih optimal dan berbeda dengan hasil yang pernah diperoleh
sebelumnya.
Muncul Perilaku Tertentu, misalnya : dorongan untuk menyabotase diri sendiri
dengan membolos, enggan mengerjakan PR atau tugas sekolah, menghindari kegiatan
belajar atau melakukan protes terhadap hal-hal yang bukan prinsip (tindakan perlawanan
terhadap norma).
Muncul ciri-ciri umum:
Potensi Akademik lebih rendah daripada potensi diri
Adanya ketidakseimbangan dalam perkembangan
Membutuhkan stimulasi dalam mencapai perkembangan optimal
Mudah mengalami gangguan emosi
Ada kerusakan pada central nervous system.
Beberapa Jenis Kesulitan Belajar dan cirri-ciri khususnya DISLEKSIA
Gejala: Kemampuan membaca anak berada di bawah kemampuan yg seharusnya dg mempertimbangkan
tingkat inteligensi, usia dan pendidikan
Bukan masalah penglihatan tetapi kemampuan syaraf dan otak dlm mengolah, memproses
informasi yg sedang dibaca. Terdeteksi setelah anak memasuki dunia sekolah.
Ciri-ciri DISLEKSIA: Sulit mengeja secara benar (anak bingung menghadapi huruf
yg mirip seperti: b-d. u-n, m-n, Sulit mengurutkan hurup dalam kata. Sulit paham
apa yg dibaca, Membaca kata kadang benar kadang tidak, Sering terbalik mengucapkan
kata, misal: hal menjadi lah atau kucing duduk di atas kursi menjadi kurisi duduk
di atas kucing, Bingung menentukan tangan untuk menulis, Lupa meletakkan tanda
baca, Lupa mencantumkan huruf besar atau salah tempat, Tulisan naik turun, Menempatkan
alinea keliru, Cara berpikir dengan gambar bukan huruf atau angka. Variasi: dg/tanpa
kesulitan matematik, ingatan tajam / pelupa
DISGRAFIA
Gejala : Tidak dapat menulis dengan mantap, atau tulisan tangan buruk
Sulit mengharmonisasi ingatan dg gerak otot scr otomatis
Ciri-ciri DISGRAFIA: ukuran dan bentuk huruf tidak proporsional, penggunaan huruf
besar dan kecil tercampur, sulit pegang alat tulis, bicara pada diri sendiri ketika
menulis/terlalu perhatikan tangan saat menulis, cara menulis tidak konsisten,
tetap mengalami kesulitan meski hanya diminta menyalin
Penyebab: lemah pada proses visual,sulit untuk sistematis,
Penyebab lain diskalkulia: fobia matematika
Ciri-ciri DISKALKULIA: Sulit melakukan hitungan matematis tapi perkembangan bahasa
dan lainnya normal, terhambat dalam pemahaman tentang waktu, hambatan dalam musik
(membaca not) dan aktivitas berolah raga yg berhubungan dengan skor
Anak-anak dengan Kesulitan Belajar ini membutuhkan penanganan yang tepat. Karena
tampak seperti gangguan yang disebabkan oleh gangguan psikologis sesaat, maka
kesulitan belajar ini seringkali tidak terdeteksi oleh orang tua atau pengajar.
Bodoh atau Nakal seringkali menjadi label yang diberikan kepada anak-anak yang
mengalami kesulitan belajar. Kesulitan Belajar kadang-kadang tidak terdeteksi
dan tidak dapat terlihat secara langsung. Setiap individu yang memiliki Kesulitan
Belajar sangatlah unik. Seperti misalnya, seorang anak “dyslexia”, yang sulit
membaca, menulis dan mengeja, tetapi sangat pandai dalam matematika. Seseorang
terlihat “normal” dan tampak sangat cerdas tetapi sebaliknya ia mengalami hambatan
dan menunjukkan tingkat kemampuan yang tidak semestinya dicapai dibandingkan dengan
yg seusia dengannya.
Bila tidak ditangani dengan baik dan benar akan menimbulkan berbagai bentuk gangguan
emosional (psikiatrik) yang akan berdampak buruk bagi perkembangan kualitas hidupnya
di kemudian hari. Kepekaan orangtua, guru di sekolah serta orang-orang di sekitarnya
sangat membantu dalam mendeteksinya, sehingga anak dapat memperoleh penanganan
dari tenaga profesional sedini dan seoptimal mungkin, sebelum menjadi terlambat.
Walau demikian, individu dengan Kesulitan Belajar bisa sukses di sekolah, di
dunia kerja, dalam hubungan antar-individu, dan di dalam masyarakat bila disertai
dengan dukungan dan perhatian yang tepat.
Penanganan Kesulitan Belajar Melalui DMI
Farmakologi dapat dilakukan apabila penyebab utamanya lebih banyak disebabkan
factor neurologi. Tetapi perlu dipahami bahwa tidak semua anak yang mengalami
kesulitan belajar disebabkan factor tunggal ini.
Dalam menangani anak-anak yang mengalami kesulitan belajar, orang tua harus memahami
sejak dini dan mendeteksi kesulitan belajar yang mungkin dialami oleh anak-anaknya.
Pemahaman mengenai kekuatan dan kelemahan anak menjadi syarat mutlak untuk mendeteksi
secara dini potensi yang dimiliki oleh anak. Potensi yang menjadi kekuatan dan
kelemahan anak ini merupakan kemampuan intrinsic yang dapat dioptimalkan dan dapat
dimanfaatkan untuk mencapai keberhasilan dalam proses belajar. Karena beragamnya
potensi yang dimiliki seorang anak, orang tua sebaiknya tidak hanya terfokus pada
kemampuan matematika dan bahasa saja. Pemahaman terhadap potensi lain yang juga
merupakan bagian dari potensi intrinsic anak, juga dapat menjadi kekuatan yang
dapat dimanfaatkan untuk meraih prestasi yang diharapkan.
Sebagai salah satu alat yang mengacu pada kecanggihan teknologi dan berlandaskan
pada teori kecerdasan majemuk yang menggambarkan keberadaan potensi lain selain
matematika dan bahasa, Dermatoglyphics Multiple Intelligence (DMI) mampu mendeteksi
dan memberikan gambaran secara utuh mengenai potensi kecerdasan majemuk yang dimiliki
anak. Sehingga orang tua akan mampu memahami kekuatan dan kelemahan yang dimiliki
anak secara lebih akurat. Selain itu, orang tua juga dapat memberikan pengembangan
kemampuan dan ketrampilan mandiri berdasarkan potensi dominan yang dimiliki.
Rencana Pembelajaran Individual (Individual Education Program/IEP). Program ini
dapat dilakukan secara optimal ketika orang tua dan pengajar memahami modalitas
belajar yang dimiliki oleh anak. Dengan memahami cara belajar yang disukai oleh
anak, orang tua dapat membantu membuat dan mendampingi rencana pembelajaran yang
akan dilaksanakan. Karena tentu saja, anak-anak dengan cara belajar visual, tidak
dapat disamakan dengan mereka yang memiliki cara belajar auditory atau tactile.
Hal ini akan sangat berperan dalam pembuatan rencana pembelajaran dan dapat memudahkan
anak dalam menjalankannya karena kenyamanan anak menjadi hal yang diutamakan.
Karena itulah, DMI mengungkap cara belajar yang dapat membantu orang tua untuk
memahami cara belajar anak, dan diteruskan dengan memberikan stimulasi dan pendampingan
belajar sesuai cara belajar yang disukainya.
Pemberian dukungan dari orang tua dan pengajar/guru. Setiap anak yang mengalami
kesulitan belajar, membutuhkan perhatian dan penangan yang harus disesuaikan dengan
kelebihan yang mereka miliki. “Apa yang harus saya lakukan? Padahal saya sudah
bersusaha sabar dengan mengajarkannya pelan-pelan, tetapi kenapa kok sepertinya
tidak ada kemajuan”. “Saya juga sudah sering memberikan nasehat dan motivasi tetapi
semua sia-sia, sepertinya dia tetap mengalami kesulitan”. Pertanyaan tersebut
seringkali datang dari orang tua yang pada akhirnya juga akan mengalami “kesulitan”
untuk menjalin komunikasi dalam proses belajar mengajar dengan anak-anak yang
mengalami kesulitan belajar. Pentingnya pemberian dukungan ini juga menjadi concern DMI terhadap penanganan terhadap anak-anak yang mengalami kesulitan belajar.
Selama ini, komunikasi yang terbangun antara orang tua dan anak-anak mereka, seringkali
mengacu pada karakter komunikasi yang orang tua miliki. Tanpa disadari, karakter
komunikasi yang dimiliki anak belum tentu sama atau bahkan bertentangan dengan
yang dimiliki anak. Nasehat dan motivasi yang diniatkan untuk mendukung membantu
proses belajar anak, apabila dilakukan dengan karakter komunikasi yang tidak sesuai
dengan yang dimiliki anak, maka akan dapat diterima sebagai penolakan, judgment atau kemarahan dari orang tua kepada anak.
Konseling dari professional juga akan dibutuhkan oleh orang tua dan anak-anak
berkesulitan belajar. Dengan pemberian konsultasi seumur hidup yang diberikan
oleh DMI, akan membantu mereka melalui dan menjalankan hasil asesmen DMI dengan
lebih optimal sehingga proses belajar mengajar akan lebih menyenangkan dan pencapaian
hasil sesuai dengan yang diharapkan. Bagaimana menentukan pendidikan selanjutnya,
pilihan untuk kejuruan atau pelatihan kerja dan karir tepat untuk anak-anak berkesulitan
belajar membutuhkan proses konsultasi yang komprehensif secara berkesinambungan.
Anak-anak atau remaja yang berkesulitan belajar akan menjadi sukses ketika peran
orang tua dan pengajar mampu menjadi pendamping yang optimal. Orang tua dan pengajar
akan mampu mendampingi secara optimal ketika meraka mengenal dan memahami potensi
yang menjadi kekuatan dan kelemahan anak-anaknya. Untuk mengakhiri artikel ini,
saya ingin mengutip dan membagi “kekuatan” sms yang pernah saya terima :
“Anakku, kau buah hati, belahan jantung penerus cerita penyambung sejarah keluarga…
Bersiaplah dewasa nak… Orang tuamu siap mendampingimu dengan segala keikhlasan…
Buatmu, tidak ada kata sibuk… tidak ada istilah mahal… tidak ada kata terpaksa… Doa Ayah dan Ibu selalu menyertaimu….” (Drs. H. Kalis Purwanto, MM.)