<

September '10

>

M

S

S

R

K

J

S

 

 

 

01

02

03

04

05

06

07

08

09

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

 

 




CARI BERITA








Kantor Pusat DMIPrimagama


Ruko Permai Pogung Lor No. 2,3,4
Ring Road Utara, Yogyakarta
Telp (0274)625168

Email: info@dmiprimagama.com




BERITA

Jum'at, 19 Desember 2008, 10:37 WIB
DMI, Membantu menangani Kesulitan Belajar

Untitled Document

Nurmey Nurulchaq, Psikolog*

Pada tahun 1994, dari 3215  murid kelas satu hingga kelas enam SD di DKI Jakarta menunjukkan bahwa terdapat 16,52% yang oleh guru dinyatakan sebagai murid berKesulitan Belajar (Abdurrahman dan ibrahim, 1994). Sebagai seorang psikolog, keluhan orang tua atau pengajar terhadap anak-anak yang mengalami kesulitan belajar menjadi catatan yang cukup banyak dalam arsip yang saya miliki. Labelling negative yang tak jarang muncul terhadap anak-anak berkesulitan belajar ini seringkali membuat miris karena ketidaktahuan orang tua atau pengajar terhadap apa yang harus dilakukan.

Kesulitan Belajar atau yang juga dikenal dengan Kesulitan Belajar merupakan hambatan/gangguan belajar pada anak dan remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yang cukup signifikan antara taraf inteligensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai. Dengan menggunakan bahasa sederhana dapat dikatakan bahwa anak-anak atau remaja yang memiliki kemampuan atau kapasias intelektual yang memadai tetapi hasil yang ditampakkan kurang setara dengan kemampuan yang dimilikinya atau bahkan cenderung mengecewakan.  Gangguan ini bersifat intrinsic dan mungkin berhubungan dengan gangguan syaraf. Gangguan ini juga dapat diperparah oleh handicap pada indera dan pengaruh lingkungan. Apabila tidak segera diatasi, gangguan ini dapat menimbulkan gangguan perkembangan lain seperti gangguan perkembangan bicara, membaca, menulis, pemahaman, dan berhitung.
            Gejala-gejala umum yang tampak pada anak-anak atau remaja yang mengalami Kesulitan Belajar ini, antara lain :

  • Kinerja Akademik menurun. Adanya hambatan-hambatan yang muncul dalam menggapai hasil belajar yang lebih optimal dan berbeda dengan hasil yang pernah diperoleh sebelumnya.
  • Muncul Perilaku Tertentu, misalnya : dorongan untuk menyabotase diri sendiri dengan membolos, enggan mengerjakan PR atau tugas sekolah, menghindari kegiatan belajar atau melakukan protes terhadap hal-hal yang bukan prinsip (tindakan perlawanan terhadap norma).
  • Muncul ciri-ciri umum:
    • Potensi Akademik  lebih rendah daripada potensi diri
    • Adanya ketidakseimbangan dalam perkembangan
    • Membutuhkan stimulasi dalam mencapai perkembangan optimal
    • Mudah mengalami gangguan emosi
    • Ada kerusakan pada central nervous system.

Beberapa Jenis Kesulitan Belajar dan cirri-ciri khususnya
DISLEKSIA

  • Gejala: Kemampuan membaca anak berada di bawah kemampuan yg seharusnya dg mempertimbangkan tingkat inteligensi, usia dan pendidikan
  • Bukan masalah penglihatan tetapi kemampuan syaraf dan otak dlm mengolah, memproses informasi yg sedang dibaca. Terdeteksi setelah anak memasuki dunia sekolah.
  • Ciri-ciri DISLEKSIA: Sulit mengeja secara benar (anak bingung menghadapi huruf yg mirip seperti: b-d. u-n, m-n, Sulit mengurutkan hurup dalam kata. Sulit paham apa yg dibaca, Membaca kata kadang benar kadang tidak, Sering terbalik mengucapkan kata, misal: hal menjadi lah atau kucing duduk di atas kursi menjadi kurisi duduk di atas kucing, Bingung menentukan tangan untuk menulis, Lupa meletakkan tanda baca, Lupa mencantumkan huruf besar atau salah tempat, Tulisan naik turun, Menempatkan alinea keliru, Cara berpikir dengan gambar bukan huruf atau angka. Variasi: dg/tanpa kesulitan matematik, ingatan tajam / pelupa

DISGRAFIA

  • Gejala : Tidak dapat menulis dengan mantap, atau tulisan tangan buruk
  • Sulit mengharmonisasi ingatan dg gerak otot scr otomatis
  • Ciri-ciri DISGRAFIA: ukuran dan bentuk huruf tidak proporsional, penggunaan huruf besar dan kecil tercampur, sulit pegang alat tulis, bicara pada diri sendiri ketika menulis/terlalu perhatikan tangan saat menulis, cara menulis tidak konsisten, tetap mengalami kesulitan meski hanya diminta menyalin

DISKALKULIA

  • Gejala: sulit memahami angka,simbol,proses matematis
  • Penyebab: lemah pada proses visual,sulit untuk sistematis,
  • Penyebab lain diskalkulia: fobia matematika
  • Ciri-ciri DISKALKULIA: Sulit melakukan hitungan matematis tapi perkembangan bahasa dan lainnya normal, terhambat dalam pemahaman tentang waktu, hambatan dalam musik  (membaca not) dan aktivitas berolah raga yg berhubungan dengan skor

Anak-anak dengan Kesulitan Belajar ini membutuhkan penanganan yang tepat. Karena tampak seperti gangguan yang disebabkan oleh gangguan psikologis sesaat, maka kesulitan belajar ini seringkali tidak terdeteksi oleh orang tua atau pengajar. Bodoh atau Nakal seringkali menjadi label yang diberikan kepada anak-anak yang mengalami kesulitan belajar.  Kesulitan Belajar kadang-kadang tidak terdeteksi dan tidak dapat terlihat secara langsung. Setiap individu yang memiliki Kesulitan Belajar sangatlah unik. Seperti misalnya, seorang anak “dyslexia”, yang sulit membaca, menulis dan mengeja, tetapi sangat pandai dalam matematika. Seseorang terlihat “normal” dan tampak sangat cerdas tetapi sebaliknya ia mengalami hambatan dan menunjukkan tingkat kemampuan yang tidak semestinya dicapai dibandingkan dengan yg seusia dengannya.

Bila tidak ditangani dengan baik dan benar akan menimbulkan berbagai bentuk gangguan emosional (psikiatrik) yang akan berdampak buruk bagi perkembangan kualitas hidupnya di kemudian hari. Kepekaan orangtua, guru di sekolah serta orang-orang di sekitarnya sangat membantu dalam mendeteksinya, sehingga anak dapat memperoleh penanganan dari tenaga profesional sedini dan seoptimal mungkin, sebelum menjadi terlambat.

Walau demikian, individu dengan Kesulitan Belajar bisa sukses di sekolah, di dunia kerja, dalam hubungan antar-individu, dan di dalam masyarakat bila disertai dengan dukungan dan perhatian yang tepat.

Penanganan Kesulitan Belajar Melalui DMI

  • Farmakologi dapat dilakukan apabila penyebab utamanya lebih banyak disebabkan factor neurologi. Tetapi perlu dipahami bahwa tidak semua anak yang mengalami kesulitan belajar disebabkan factor tunggal ini.
  • Dalam menangani anak-anak yang mengalami kesulitan belajar, orang tua harus memahami sejak dini dan mendeteksi kesulitan belajar yang mungkin dialami oleh anak-anaknya. Pemahaman mengenai kekuatan dan kelemahan anak menjadi syarat mutlak untuk mendeteksi secara dini potensi yang dimiliki oleh anak. Potensi yang menjadi kekuatan dan kelemahan anak ini merupakan kemampuan intrinsic yang dapat dioptimalkan dan dapat dimanfaatkan untuk mencapai keberhasilan dalam proses belajar. Karena beragamnya potensi yang dimiliki seorang anak, orang tua sebaiknya tidak hanya terfokus pada kemampuan matematika dan bahasa saja. Pemahaman terhadap potensi lain yang juga merupakan bagian dari potensi intrinsic anak, juga dapat menjadi kekuatan yang dapat dimanfaatkan untuk meraih prestasi yang diharapkan.

Sebagai salah satu alat yang mengacu pada kecanggihan teknologi dan berlandaskan pada teori kecerdasan majemuk yang menggambarkan keberadaan potensi lain selain matematika dan bahasa, Dermatoglyphics Multiple Intelligence (DMI) mampu mendeteksi dan memberikan gambaran secara utuh mengenai potensi kecerdasan majemuk yang dimiliki anak. Sehingga orang tua akan mampu memahami kekuatan dan kelemahan yang dimiliki anak secara lebih akurat. Selain itu, orang tua juga dapat memberikan pengembangan kemampuan dan ketrampilan mandiri berdasarkan potensi dominan yang dimiliki.

  • Rencana Pembelajaran Individual (Individual Education Program/IEP). Program ini dapat dilakukan secara optimal ketika orang tua dan pengajar memahami modalitas belajar yang dimiliki oleh anak. Dengan memahami cara belajar yang disukai oleh anak, orang tua dapat membantu membuat dan mendampingi rencana pembelajaran yang akan dilaksanakan. Karena tentu saja, anak-anak dengan cara belajar visual, tidak dapat disamakan dengan mereka yang memiliki cara belajar auditory atau tactile. Hal ini akan sangat berperan dalam pembuatan rencana pembelajaran dan dapat memudahkan anak dalam menjalankannya karena kenyamanan anak menjadi hal yang diutamakan. Karena itulah, DMI mengungkap cara belajar yang dapat membantu orang tua untuk memahami cara belajar anak, dan diteruskan dengan memberikan stimulasi dan pendampingan belajar sesuai cara belajar yang disukainya.
  • Pemberian dukungan dari orang tua dan pengajar/guru. Setiap anak yang mengalami kesulitan belajar, membutuhkan perhatian dan penangan yang harus disesuaikan dengan kelebihan yang mereka miliki. “Apa yang harus saya lakukan? Padahal saya sudah bersusaha sabar dengan mengajarkannya pelan-pelan, tetapi kenapa kok sepertinya tidak ada kemajuan”. “Saya juga sudah sering memberikan nasehat dan motivasi tetapi semua sia-sia, sepertinya dia tetap mengalami kesulitan”. Pertanyaan tersebut seringkali datang dari orang tua yang pada akhirnya juga akan mengalami “kesulitan” untuk menjalin komunikasi dalam proses belajar mengajar dengan anak-anak yang mengalami kesulitan belajar. Pentingnya pemberian dukungan ini juga menjadi concern  DMI terhadap penanganan terhadap anak-anak yang mengalami kesulitan belajar. Selama ini, komunikasi yang terbangun antara orang tua dan anak-anak mereka, seringkali mengacu pada karakter komunikasi yang orang tua miliki. Tanpa disadari, karakter komunikasi yang dimiliki anak belum tentu sama atau bahkan bertentangan dengan yang dimiliki anak. Nasehat dan motivasi yang diniatkan untuk mendukung membantu proses belajar anak, apabila dilakukan dengan karakter komunikasi yang tidak sesuai dengan yang dimiliki anak, maka akan dapat diterima sebagai penolakan, judgment atau kemarahan dari orang tua kepada anak.
  • Konseling dari professional juga akan dibutuhkan oleh orang tua dan anak-anak berkesulitan belajar. Dengan pemberian konsultasi seumur hidup yang diberikan oleh DMI, akan membantu mereka melalui dan menjalankan hasil asesmen DMI dengan lebih optimal sehingga proses belajar mengajar akan lebih menyenangkan dan pencapaian hasil sesuai dengan yang diharapkan. Bagaimana menentukan pendidikan selanjutnya, pilihan untuk kejuruan atau pelatihan kerja dan karir tepat untuk anak-anak berkesulitan belajar membutuhkan proses konsultasi yang komprehensif secara berkesinambungan.
Anak-anak atau remaja yang berkesulitan belajar akan menjadi sukses ketika peran orang tua dan pengajar mampu menjadi pendamping yang optimal. Orang tua dan pengajar akan mampu mendampingi secara optimal ketika meraka mengenal dan memahami potensi yang menjadi kekuatan dan kelemahan anak-anaknya.  Untuk mengakhiri artikel ini, saya ingin mengutip dan membagi “kekuatan” sms yang pernah saya terima :
 
“Anakku, kau buah hati, belahan jantung penerus cerita penyambung sejarah keluarga… Bersiaplah dewasa nak… Orang tuamu siap mendampingimu dengan segala keikhlasan… Buatmu, tidak ada kata sibuk… tidak ada istilah mahal… tidak ada kata terpaksa…
Doa Ayah dan Ibu selalu menyertaimu….”
(Drs. H. Kalis Purwanto, MM.)


DMI PRIMAGAMA



Copyright 2008
DMIPriamagama - Indonesia


HOME | ALAMAT DMI SE-INDONESIA | PROFILE | BERITA | PRODUK | KONTAK |